Saat ini aku teringat lagi hari itu
Aku anggap itu adalah suatu anugerah Tuhan yang tak terduga
Seperti biasa aku hampir terlambat
Tapi hari itu Allah begitu luar biasa menuliskan takdirku
Aku melihat kakak itu sama terburu-burunya denganku
Awalnya aku tidak menyadarinya dan aku hamper saja berjalan
mendahuluinya
Tapi, seketika aku tersadar
Dan, aku segera menurunkan kecepatan jalanku dan mengambil
langkah di belakang kakak ini
Aku mungkin berjarak satu meter saja di belakangnya
Saat itu, dalam hatiku aku hanya teringat pada satu kaidah
Arrijaalu qawwamuna ‘alannisa
Aku masih malu mengakui ini di hadapan Allah
Tapi ada satu bagian dari hatiku yang menganggap
Aku sedang berjalan di belakang imamku
Dan mungkin kakak ini merasa aneh dengan kehadiranku,
Dia mempercepat langkahnya
Dan saat melihat lift yang penuh dengan orang yang menunggu
Dia memilih naik tangga
Heyyy … aku tidak berniat mengikutinya
Aku memang biasa naik tangga kan?
Dan aku juga tidak mempercepat langkahku untuk mengimbangi
langkahnya
Kau tahu betapa cepatnya langkahku
Tepatnya betapa cepatnya aku saat terlambat
Sebenarnya rasanya biasa saja
Kupikir-pikir tak ada yang special kecuali saat aku
menemukannya di parkiran
Dan saat aku tidak memilih berlari tapi melangkah di
belakangnya
Mungkin saat ini aku mulai belajar malu
Bukankah adil, bila laki-laki diperintahkan untuk
menundukkan pandangan mereka,
Maka aku sebagai perempuan berusaha agar tidak dipandang
oleh mereka
Iya, itu memang adil
Dan bicara tentang malu,
Rasa itu sudah ada sejak pertama aku tidak sengaja bertemu
dengan mata kakak ini
Berbeda dengan orang-orang lainnya
Saat bertemu kakak ini entahlah
Reflex saja, aku pasti menundukkan pandanganku atau
mengalihkannya
Astagfirullahaladzim …
Semoga Allah mengampuniku karena telah memikirkannya
Tapi aku ingin kalian tidak melewatkan proses hijrahku
Karena itulah aku tetap menceritakannya
Sebenarnya aku tidak menyamakan pandanganku terhadap
laki-laki
Laki-laki yang biasa aku andalkan hanya ada 3 orang di dunia
ini
Abah, Halim, dan Syaifa
Selain itu …
Mereka adalah teman,
Saat aku menganggap mereka teman,
Aku tidak akan sungkan untuk menyapa, mengobrol, dan bergurau
dengan mereka
Termasuk di dalamnya laki-laki aneh yang belum dewasa
Dan aku terpaksa berdamai dengan orang-orang semacam ini
Termasuk juga didalamnya kakak sepupu laki-lakiku
Dan … kadang juga ada saat dimana aku memandangnya sebagai
orang asing
Mereka orang yang kehadirannya kusadari namun tak memberiku
pengaruh apapun
Berlalu begitu saja, layaknya biasanya orang asing
Dan terakhir, ada beberapa orang special yang kehadirannya
memuatku waspada
Orang-orang ini menciptakan respon beragam dalam diriku
Yang kebanyakan membuatku merasa malu